Selamat Datang di Blog Sharing For Good - Jangan Lupa Follow dan Share Ke Yang Lain. Selamat Membaca?

Pages

Regenerasi Akal

Akal selalu berzikir tentang tuhannya. Akal juga selalu bersujud dan bertafakur, yang tentu lebih dari sekedar bertafakur tentang cinta lawan jenis..

Panggilan Dari Langit

Dia adalah Ego..

Suara Sang Pecipta

Kekasih,di manakah engkau berada? Apakah engkau bertapa ditaman kecil ini...

Foto Pertama Yang Di Unggah Di Internet

Tahukah anda orang yang pertama kali mengupload foto di dunia maya..?

10 Butir Nasihat Hidup Sehat

Be Healthy..! Eat Well, Live Well...

May 26, 2016

Minuman Coca-Cola


Coca-Cola adalah minuman ringan berkarbonasi yang dijual di toko, restoran, dan mesin penjaja di lebih dari 200 negara.Minuman ini diproduksi oleh The Coca-Cola Company asal Atlanta, Georgia, dan sering disebut Coke saja (merek dagang terdaftar The Coca-Cola Company di Amerika Serikat sejak 27 Maret 1944).

Awalnya dibuat sebagai obat paten saat ditemukan pada akhir abad ke-19 oleh John Pemberton, Coca-Cola akhirnya dibeli oleh pebisnis Asa Griggs Candler yang taktik pemasarannya berhasil membuat Coke mendominasi pasar minuman ringan dunia sepanjang abad ke-20.

Perusahaan ini memproduksi konsentrat yang kemudian dijual ke pabrik Coca-Cola berlisensi di seluruh dunia. Pabrik botol yang memegang kontrak ekskulsif dengan perusahaan ini memproduksi produk akhir dalam bentuk kaleng dan botol dari konsentrat tersebut, dicampur dengan air yang telah disaring dan pemanis. Pabrik-pabrik tersebut kemudian menjual, mendistribusikan, dan memasarkan Coca-Cola ke toko-toko eceran dan mesin penjaja.
Coca-Cola Enterprises adalah contoh pabrik Coca-Cola, yang merupakan pabrik Coca-Cola terbesar di Amerika Utara dan Eropa Barat.

The Coca-Cola Company juga menjual konsentrat untuk air mancur soda di sejumlah restoran besar dan distributor jasa makanan.The Coca-Cola Company juga pernah mengeluarkan minuman cola lain dengan merek Coke, yang paling umum adalah Diet Coke, kemudian Caffeine-Free Coca-Cola, Diet Coke Caffeine-Free, Coca-Cola Cherry, Coca-Cola Zero, Coca-Cola Vanilla, dan beberapa versi khusus berperisa lemon, jeruk nipis, atau kopi.
Menurut Interbrand pada tahun 2011, Coca-Cola adalah merek termahal di dunia.


Sumber : wikipedia.com

Dengan Sidik Jari Bisa Menganalisa Gaya Asuh Orang Tua

Selama ini analisis sidik jari digunakan untuk mengetahui bagaimana tipe gaya belajar seorang anak. Kini sidik jari juga bisa digunakan untuk menganalisis tipe gaya asuh dari orangtua. "Dalam mengasuh anak, kadang ibu memberikan stimulasi atau pendekatan yang belum tentu sesuai dengan kondisi anaknya. Hal ini karena ibu belum mengetahui gaya asuh diri mereka sendiri," ujar Efnie Indrianie, MPsi, seorang psikolog anak dari Psychobiometric.

Efnie menuturkan terkadang ibu-ibu merasa kesal karena anaknya susah sekali menuruti kemauannya, misalnya ibu dengan gaya asuh responsif cenderung mengikuti tren yang ada padahal belum tentu sesuai dengan potensi si anak itu sendiri. "Dengan mengetahui seperti apa gaya asuh yang dimiliki, maka seorang ibu lebih mudah dalam mengkombinasikan atau menyesuaikan dirinya dengan si anak sehingga pengembangan potensi anak menjadi lebih optimal," ungkapnya.

Untuk mengetahui sidik jari orangtua ini caranya ibu atau ayah diambil sidik jarinya. Kemudian dianalisa dengan komputer untuk menentukan diagnosanya. Dari hasil guratan sidik jari tersebut bisa terlihat tipe gaya asuhnya. Psikolog yang akrab disapa Pipin ini menuturkan ada 4 tipe gaya asuh dari orangtua berdasarkan sidik jari yaitu:

Gaya asuh alamiah (natural)Tipe ini cenderung lebih banyak memberikan kebebasan pada anak dan mengikuti alur perkembangan si kecil tanpa memberikan batasan- batasan yang tegas, misalnya anak mau sekolah musik ibunya selalu menuruti. Tapi kelemahan dari gaya asuh ini anak cenderung memiliki manajemen batas yang rendah, misalnya sulit untuk memanage waktu.

Gaya asuh membimbing (nurturing)
Tipe ini cenderung memiliki pola pengasuhan tertentu dan batasan-batasan yang jelas terhadap anak, mislanya kapan anak harus mandi, kapan waktunya mengerjakan PR atau berapa nilai yang harus dimiliki oleh anak di sekolah. Namun gaya asuh ini berbeda atau tidak sampai menjadi otoriter, karena orangtua cenderung mengarahkan anaknya. Jika anaknya memiliki tipe organize (teratur) maka tipe ini bisa saja diterapkan dengan baik, tapi jika anaknya cenderung fleksibel ibu biasanya lebih sering marah-marah dan anak bisa saja menjadi stres.

Gaya asuh responsif
Tipe ini cenderung mudah mengambil keputusan yang berhubungan dengan anak dan biasanya mengikuti tren atau sesuatu yang baru, misalnya lagi tren les aritmatika maka anaknya diikutsertakan. Jika anaknya memang suka matematika maka hal ini akan bermanfaat untuk anak, tapi jika tidak sesuai dengan potensi atau gaya belajar anak maka bisa saja memicu stres anak.

Gaya asuh analitis (analytical)
Tipe ini cenderung memiliki banyak pertimbangan atau lama mikir dalam memutuskan segala sesuatu yang berhubungan dengan anak, karena ia tidak mudah mengambil keputusan. Misalnya saat anak mau masuk sekolah maka ia mensurvei beberapa sekolah sendiri untuk tahu kelebihan dan kekurangan sekolah itu, teliti dalam memberikan cemilan atau makanan untuk anak, serta tidak
mudah terpengaruh dengan pendapat orang lain. "Satu hal yang pasti tidak ada pola asuh yang benar atau salah. Tapi jika ibu tahu gaya asuh seperti apa yang dimilikinya, maka ia akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan anaknya," ungkap psikolog yang menjadi Kepala Bidang Kajian Psikologi Perkembangan Universitas Kristen Maranatha Bandung.

Setiap anak memiliki perilaku, karakter dan bakat yang berbeda-beda. Untuk gaya belajar ada anak yang lebih unggul dalam hal visual, auditory atau kinestetik. Sedangkan kemampuan anak dalam mengeksplor sesuatu ada yang memiliki tipe realistis (harus diperlihatkan secara langsung benda-benda nyata), imajinatif (senang menggunakan analogi), observasi (mudah belajar dengan cara mengamati) serta eksperimen (harus uji coba terlebih dahulu dalam belajar). "Analisis gaya asuh melalui sidik jari ini tidak hanya untuk para ibu saja tapi juga berlaku untuk ayah atau single parent. Selain itu hasil analisisnya memiliki tingkat akurasi 87,91 persen dan bersifat permanen," ujarnya.

Deteksi Stres Dari Air Ludah


Stres yang berkelanjutan bisa memicu burnout atau kehilangan semangat hidup, yang seringkali didagnosis sebagai gejala depresi. Untuk membedakan burnout dengan depresi, cara paling akurat adalah memeriksa komposisi air ludah di pagi hari.

Padamnya semangat hidup alias burnout tidak bisa dipandang remeh karena sangat mempengaruhi produktivitas seseorang. Namun penanganan burnout sering tumpang tindih dengan depresi, sehingga tidak tertangani dengan baik dan kadang malah memburuk.
Keduanya memang memiliki gejala yang hampir sama misalnya kurang motivasi dan tidak bergairah, karena burnout pada dasarnya terjadi akibat depresi kronis yang tidak tertangani. Namun dilihat dari kondisi hormonal yang mempengaruhi, keduanya memiliki perbedaan yang mendasar.

Depresi ditandai dengan peningkatan kadar kortisol, yang dikenal juga sebagai hormon stres. Sebaliknya ketika depresi itu berkembang hingga memasuki fase burnout, produksi kortisol justru mengalami penurunan hingga level yang sangat rendah. "Perbedaan kadar kortisol terjadi karena kondisi itu psikologis mempengaruhi sistem pengaturan hormon pada tubuh manusia," ungkap peneliti masalah kejiwaan dari Louis-H Lafontaine Hospital, Dr Sonia Lupien seperti dikutip dari Health. Tanpa deteksi yang akurat, gejala burnout sering tidak tertangani dengan tepat. Karena dikira masih depresi, seseorang yang mengalami burnout sering mendapat antidepresan yang fungsinya adalah menurunkan kadar kortisol. Padahal pada fase burnout, kadar kortisol sudah sangat rendah.

Deteksi yang diklaim paling akurat dikembangkan baru-baru ini oleh tim gabungan dari Louis-H Lafontaine Hospital dan University of Montreal, Kanada. Para ahli dalam penelitian itu menggunakan air ludah yang diambil pada pagi hari, karena diyakini paling mewakili kondisi hormonal seseorang. Metode yang dikembangkan dalam penelitian itu telah dibuktikan akurasinya pada sekitar 30 relawan paruh baya yang mengalami berbagai gangguan kejiwaan yang meliputi stres, depresi dan burnout. Pemeriksaan kadar kortisol melalui air ludah pada pagi hari menunjukkan hasil yang sesuai dengan hasil tes darah maupun psikotes.

Baca Juga..?